Jelang Imlek: Tidak Mudah Membuat Dupa Itu...

KOMPAS Jawa Tengah edisi Jumat 16 Februari 2007 Halaman: 1 Penulis: Ab1

Jelang Imlek: Tidak Mudah Membuat Dupa Itu...

Jelang Imlek

TIDAK MUDAH MEMBUAT DUPA ITU...

Dupa raksasa setinggi tiga meter berdiri megah di pintu masuk menuju panggung Pembukaan Pasar Imlek Semawis 2007, Kamis (15/2). Hio Swa ini memang sengaja diletakkan di depan panggung yang bersebelahan dengan Kelenteng Sinar Samudra, Pecinan, Kota Semarang, sebagai simbol pembukaan pasar Imlek ini.

Hio ini disangga dengan bambu dan ditutupi dengan kain dan plastik agar tidak basah bila turun hujan. Beberapa orang di antara pengunjung yang akan memasuki lokasi pembukaan pasar ini sempat berhenti sesaat untuk melihat keanehan hio yang terbungkus kain merah ini.

Diana (25), warga Kota Semarang, yang tinggal tidak jauh dari Simpanglima mengaku kagum dengan hio yang berukuran raksasa ini. Menurut gadis berkacamata ini, hio ini merupakan dupa terbesar yang pernah disaksikannya.

"Biasanya hio tidak ada yang setinggi ini. Yang agak besar juga biasanya lebar, tidak tinggi seperti ini," ungkap dia. Namun, tidak semua pengunjung pasar Imlek mengetahui proses pembuatan dupa raksasa ini. Hio Swa ini merupakan hasil karya Lidya (32) dan karyawannya di Perusahaan Hio Cap Liong. Empat minggu waktu yang dihabiskannya untuk menyelesaikan dupa yang akan dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) ini.

Lidya mengerjakan dupa ini di rumahnya yang terletak di Medoho. Bersama dengan beberapa karyawannya, ia bereksperimen untuk mengolah bahan pembuat dupa. Pembuatannya juga memiliki beberapa tahap, seperti menempelkan badan dupa yang terbuat dari serbuk kayu dengan batang penyangga hio.

Selanjutnya, badan hio ini dicampur dengan perekat dan dimasukkan ke cetakan yang terbuat dari galvanil. Ia sempat menggunakan paralon sebagai cetakan, tetapi hasilnya rusak dan pecah- pecah. Bahan yang sudah dimasukkan ke cetakan ini lantas dipanaskan di dalam oven berukuran besar yang dipinjam dari kenalannya.

Waktu yang diperlukan untuk memanaskan badan hio ini mencapai dua hingga lima hari. Setelah itu, hio ini diperhalus dengan mengunakan bahan yang sama, tapi lebih cair. Dupa yang sudah halus akhirnya dilapisi dengan pewarna merah sebelum disemprot dengan minyak wangi.

Menurut Lidya, cara pembuatannya hampir sama dengan hio kecil, tetapi lebih rumit karena ukurannya yang besar. Cara yang digunakan juga tidak lagi tradisional dengan dibentuk menggunakan tangan dan dikeringkan dengan cahaya matahari. Waktu yang singkat membuatnya tidak bisa berlama-lama mengeringkan hio ini.

Namun, saat akan melihat cara pembakarannya, pengusaha hio ini masih sedikit enggan. "Takut rahasianya diketahui orang, soalnya belum banyak yang bisa," ungkap dia sambil tertawa.

Kunci kesuksesan

Pembakaran memang menjadi salah satu kunci kesuksesan pembuatan hio ini. Bagaimana tidak, untuk menghasilkan satu hio, ia sudah empat kali gagal karena dupa ini pecah saat dipanaskan. Tingkat kesulitan yang dibutuhkan juga tinggi karena kesalahan sedikit saja bisa merusak dupa ini.

Meskipun pembuatan ini menggunakan dananya sendiri, ia mengaku puas jika dupa ini berhasil dibuatnya. Lidya juga tidak terlalu berpatokan pada pencatatan karyanya di Muri.

"Kalau hio-nya jadi, rasanya puas aja. Capeknya jadi terbayar," kata dia.

Saat ditemui di rumahnya, hari Rabu lalu Lidya masih terlihat sedikit khawatir dupa yang sedang dalam tahap pemanasan ini pecah lagi karena waktu yang tersisa hanya satu hari sebelum pembukaan Pasar Imlek Semawis.

Namun, kekhawatiran itu sirna ketika sehari kemudian, Lidya dan suaminya bisa berdiri di sebelah hio raksasa ini. Senyuman tidak lepas dari wajahnya saat menatap hasil kerja kerasnya selama empat minggu menjadi pusat perhatian pengunjung Pasar Imlek Semawis dan menjadi penanda pembukaan Pasar Imlek Semawis. (AB1)

Halaman A

Foto: 1 Kompas/Antony Lee

Lidya (32) dan suaminya menyelesaikan pembuatan dupa setinggi tiga meter yang digunakan dalam pembukaan Pasar Semawis, Kamis (15/2).

Cara Penggunaan Artikel

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Cara Penggunaan Infografik Berita

  1. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan kredit atas nama desainer grafis dengan format: ‘Kompas/Desainer Grafis’.
  2. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Infografik Berita tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  4. Data/informasi yang tertera pada infografik berita valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan data oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan infografik berita tanpa persetujuan dari Kompas.
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.