Cuaca Ekstrem: Kekeringan Masih Melanda

KOMPAS edisi Kamis 29 November 2018 Halaman: 1 Penulis: AIK; TAM; SEM; BAY; RAM; AIN; ODY; RTS; PIN
Foto ke-1 dari 1

Rumah di Pinggir Sungai Ciliwung

">Sungai Ciliwung terlihat diapit permukiman padat penduduk di kawasan Manggarai dan Matraman, Jakarta, Rabu (28/11/2018). Ketika musim hujan tiba, penduduk di tepi sungai harus waspada terhadap ancaman banjir, termasuk banjir dari hulu sungai, dan bencana longsor. ">KOMPAS

Cuaca Ekstrem: Kekeringan Masih Melanda

Cuaca Ekstrem

Kekeringan Masih Melanda

Berdasarkan pemantauan terhadap perkembangan peralihan musim kemarau ke musim hujan, 39,3 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau. Daerah-daerah itu adalah mayoritas Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Sulawesi, dan sebagian kecil Papua.

”Sebagian memang hujan di atas normal, tetapi lainnya masih ada yang kekeringan ekstrem,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Sejumlah daerah terindikasi kekeringan meteorologis dalam kategori ekstrem karena tidak hujan lebih dari 61 hari. Di Jawa Timur terdapat 11 wilayah dengan 61-225 hari tidak hujan, yaitu Sumberbulu, Kaliklatak, Krasak, Paiton, Kalor Koran, Pasewaran, Bajulmati, Liwung, Dander, Lumbang, dan Grati.

Di Bali terpantau di delapan wilayah (76-235 hari), yaitu Pengotan, Toya Bungkah, Celukan Bawang, Kintamani, Sukadana, Tianyar, Tejakula, dan Sambirenteng. Adapun di NTB terpantau di Sape (91), Sape 2 (246), dan Rensing/Sakra Barat (106 hari). Di NTT terpantau tujuh daerah dengan 82-255 hari tanpa hujan, yaitu Melolo, Biudukfoho, Daieko, Kawangu, Temu/Kanatang, Rambangaru, dan Danga. Kemudian, Di Bendungan Kelara, Sulawesi Selatan, 139 hari dan di Okaba, Papua, 133 hari.

Adapun daerah-daerah yang terindikasi kekeringan sangat panjang karena tidak hujan 31-60 hari adalah Besuki dan Wringinanom di Jatim, Tukad Mungga di Bali, dan Saumlaki di Maluku.

Pengaruh El Nino

Dinamika cuaca di Indonesia, menurut Siswanto, dipengaruhi kondisi El Nino skala lemah yang masih terjadi pada rentang Desember 2018-Februari 2019. ”Kecil kemungkinan El Nino ini berkembang intensitasnya menjadi kuat,” katanya.

Sejak 1950, El Nino dengan intensitas lemah pernah terjadi sembilan kali, terakhir pada 2014/2015. El Nino lemah ini umumnya terjadi dalam durasi pendek, berkisar 5-6 bulan.

Sesuai analisis kejadian El Nino lemah di masa lalu, hingga November terjadi penurunan curah hujan bulanan berkisar 5-50 persen dibandingkan dengan tahun-tahun netral. Ini meliputi wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua. Sementara itu, daerah Sumatera bagian tengah dan utara, Kalimantan bagian barat dan selatan, serta Sulawesi Utara dan Papua Barat justru mengalami anomali positif dengan bertambahnya curah hujan.

Untuk Desember, pola anomali curah hujan sebagai dampak El Nino cenderung serupa dengan yang terjadi pada bulan sebelumnya. Namun, untuk Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian timur, dan Papua Barat berubah dari anomali positif ke anomali negatif.

Rawan longsor dan banjir

Adapun hujan deras yang berlangsung cukup lama saat ini memicu longsor dan banjir di sejumlah daerah. Di Bogor, misalnya, hujan deras memicu retaknya sebagian jalan di lokasi perbaikan longsor di dekat Riung Gunung, Desa Tugu Selatan, Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor, Rabu. Akibatnya, separuh dari badan jalan di seputar lokasi tidak dapat digunakan.

”Bagi masyarakat atau pengguna jalan yang akan menuju Cianjur atau Bandung diimbau menggunakan jalur alternatif Jonggol, Cariu, Sukabumi,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor Ajun Komisaris Polisi Hasby Ristama.

Hujan deras di Purwakarta, Jawa Barat, menyebabkan tebing setinggi sekitar 5 meter di Desa Salam Jaya, Kecamatan Pondok Salam, longsor, Selasa (27/11) malam. Empat orang tewas dan lima orang luka berat akibat tertimbun longsoran.

Berdasarkan peta potensi gerakan tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pada November ini terjadi di 17 kecamatan di Purwakarta dengan tingkat kerentanan menengah hingga tinggi. ”Masyarakat diharapkan aktif mengamati munculnya gejala longsor seperti adanya retakan pada tebing atau bukit,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan memetakan 10 daerah rawan banjir dan 7 daerah rawan longsor di Sumatera Selatan. Daerah yang rawan banjir umumnya berada di daerah aliran sungai (DAS).

Di Bandung, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar meminta semua pihak mewaspadai potensi munculnya banjir-longsor pada musim hujan di 15 DAS. Daerah aliran sungai yang rawan itu adalah Asahan Toba, Moyo, Serayu, Limboto, Solo, Brantas, Musi, Siak, Kapuas, Saddang, Jeneberang, Way Sekampung, Cisadane, Ciliwung, dan Citarum. Kerusakan hutan di kawasan hulu dituding menjadi penyebab utama.

(AIK/TAM/SEM/BAY/RAM/AIN/ODY/RTS/PIN)

BACA JUGA:

Antisipasi Longsor Baru Sosialisasi

METROPOLITAN/ HLM 22

Foto:

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Sungai Ciliwung terlihat diapit permukiman padat penduduk di kawasan Manggarai dan Matraman, Jakarta, Rabu (28/11/2018). Ketika musim hujan tiba, penduduk di tepi sungai harus waspada terhadap ancaman banjir, termasuk banjir dari hulu sungai, dan bencana longsor.

Cara Penggunaan Artikel

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Cara Penggunaan Infografik Berita

  1. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan kredit atas nama desainer grafis dengan format: ‘Kompas/Desainer Grafis’.
  2. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Infografik Berita tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  4. Data/informasi yang tertera pada infografik berita valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan data oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan infografik berita tanpa persetujuan dari Kompas.
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.